Liquid Crystal Display (LCD) adalah

Liquid Crystal Display (LCD) adalah sebuah peralatan elektronik yang berfungsi untuk menampilkan output sebuah sistem dengan cara membentuk suatu citra atau gambaran pada sebuah layar. Secara garis besar komponen penyusun LCD terdiri dari kristal cair (liquid crystal) yang diapit oleh 2 buah elektroda transparan dan 2 buah filter polarisasi (polarizing filter).


Gambar Penampang komponen penyusun LCD 
Keterangan: 
1. Film dengan polarizing filter vertical untuk memolarisasi cahaya yang masuk. 
2. Glass substrate yang berisi kolom-kolom elektroda Indium tin oxide (ITO). 
3. Twisted nematic liquid crystal (kristal cair dengan susunan terpilin). 
4. Glass substrate yang berisi baris-baris elektroda Indium tin oxide (ITO). 
5. Film dengan polarizing filter horizontal untuk memolarisasi cahaya yang masuk. 
6. Reflektor cahaya untuk memantulkan cahaya yang masuk LCD kembali ke mata pengamat. 

Sebuah citra dibentuk dengan mengombinasikan kondisi nyala dan mati dari pixel-pixel yang menyusun layar sebuah LCD. Pada umumnya LCD yang dijual di pasaran sudah memiliki integrated circuit tersendiri sehingga para pemakai dapat mengontrol tampilan LCD dengan mudah dengan menggunakan mikrokontroler untuk mengirimkan data melalui pin-pin input yang sudah tersedia. 


Gambar Contoh citra yang terbentuk pada layar LCD 
LCD yang ada dipasaran dikategorikan menurut jumlah baris yang dapat digunakan pada LCD yaitu 1 baris , 2 baris , dan 4 baris yang dapat digunakan hingga 80 karakter. Umumnya LCD yang digunakan adalah LCD dengan 1 controller yang memiliki 14 pin. Deskripsi pin dapat dilihat pada gambar dibawah ini 


Gambar Konfigurasi pin LCD
 Keterangan pin:
 1.   VSS :  digunakan untuk menyalakan LCD (ground)
 2.   VDD : digunakan untuk menyalakan LCD ( +5 V )
 3.   VEE : digunakan untuk mengatur tingkat contrast pada LCD
 4.   RS : menentukan mode yang akan digunakan (0 = instruction input , 1 =
 data input)
 5.   R/W : menentukan mode yang akan digunakan (0 = write , 1 = read)
 6.   EN : enable ( untuk clock )
 7.   D0 : data 0
 8.   D1 : data 1
 9.   D2 : data 2
10. D3 : data 3
11. D4 : data 4
12. D5 : data 5
13. D6 : data 6
14. D7 : data 7 ( MSB )

Sebelum dapat digunakan, ada beberapa langkah untuk mempersiapkan LCD agar siap dipakai diantaranya adalah LCD init yang dibutuhkan untuk mengatur mode agar sesuai dengan yang diinginkan. Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk proses init adalah sebagai berikut :

1. Melakukan proses clear display


RS
R/W
DB7
DB6
DB5
DB4
DB3
DB2
DB1
DB0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

2. Melakukan function set

RS
R/W
DB7
DB6
DB5
DB4
DB3
DB2
DB1
DB0
0
0
0
0
1
A
B
C
0
0


• Jika :
o A = 1 / 0 ( 1 = 8 bit , 0 = 4 bit )
o B = 1 / 0 ( 1 = 2 baris , 0 = 1 baris )
o C = 1 / 0 ( 1 = 5x10 dot , 0 = 5x7 dot )

3. Mengontrol display on / off

RS
R/W
DB7
DB6
DB5
DB4
DB3
DB2
DB1
DB0
0
0
0
0
0
0
1
A
B
C


• Jika :
o A = 1 / 0 ( 1 = display on , 0 = display off )
o B = 1 / 0 ( 1 = cursor on , 0 = cursor off )
o C = 1 / 0 ( 1 = blinking on , 0 = blinking off )

4. Entry mode set

RS
R/W
DB7
DB6
DB5
DB4
DB3
DB2
DB1
DB0
0
0
0
0
0
0
0
1
A
B


• Jika :
o A = 1 / 0 ( 1 = increment , 0 = decrement )
o B = 1 / 0 ( 1 = shift , 0 = no shift )

Berikut ini adalah contoh program untuk melakukan proses init menggunakan C:
#define LCD_data P2
#define LCD_D7  P2_7
#define LCD_rs  P1_0
#define LCD_rw  P1_1
#define LCD_en  P1_2

void LCD_init()
{
LCD_data = 0x38;    //Function set: 2 line, 8-bit,
5x7 dots
LCD_rs   = 0;        //Selected command register
LCD_rw   = 0;        //We are writing in data
register



LCD_en
= 1;
//Enable H->L
LCD_en
= 0;

LCD_busy();         //Wait for LCD to process the
command
LCD_data = 0x0F;    //Display on, Curson blinking
command
LCD_rs   = 0;        //Selected command register
LCD_rw   = 0;        //We are writing in data register
LCD_en   = 1;        //Enable H->L
LCD_en   = 0;
LCD_busy();         //Wait for LCD to process the
command
LCD_data = 0x01;    //Clear LCD
LCD_rs   = 0;        //Selected command register
LCD_rw   = 0;        //We are writing in data
register
LCD_en   = 1;        //Enable H->L
LCD_en   = 0;
LCD_busy();         //Wait for LCD to process the command
LCD_data = 0x06;    //Entry mode, auto increment with no shift
LCD_rs   = 0;        //Selected command register
LCD_rw   = 0;        //We are writing in data register
LCD_en   = 1;        //Enable H->L
LCD_busy();

Read more »

Teori tentang Tekanan Darah

Tekanan darah adalah istilah yang mengacu kepada tekanan yang diberikan oleh cairan darah kepada dinding pembuluh darah ketika sedang mengalir di dalamnya, atau dengan kata lain tekanan yang dirasakan oleh dinding pembuluh darah akibat dari darah yang mengalir di dalamnya. Besarnya tekanan ini bervariasi seiring dengan mengecilnya ukuran pembuluh darah. Tekanan paling besar dialami oleh pembuluh arteri dan yang paling kecil dialami oleh pembuluh halus (vein). Nilai tekanan darah yang diukur dalam dunia kedokteran adalah tekanan yang dialami oleh pembuluh arteri. Alat untuk mengukur tekanan darah disebut dengan sphygmomanometer, dan satuan yang digunakan adalah mmHg (milimeter of hydrargyrum). 

Gambar 1. Sphygmanometer 

Tekanan darah terbagi menjadi 2 jenis, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan yang dihasilkan pada saat jantung mulai berdenyut dan berkontraksi memompa darah keluar dari jantung. Sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan yang dihasilkan pada saat jantung berelaksasi setelah berdenyut. Keduanya memiliki nilai yang selalu berubah-ubah setiap kali jantung berdenyut. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh beberapa macam faktor lain, seperti stress, perasaan tidak nyaman, kandungan nutrisi dalam makanan, konsumsi obat-obatan, penyakit, dan olah raga. Pengukuran nilai tekanan darah sebaiknya diambil ketika pikiran dalam keadaan rileks dan posisi tubuh dalam keadan senyaman mungkin, serta tidak mengkonsumsi produk yang mengandung kafein, nikotin, dan alkohol dalam kurun waktu 30 menit. 


Gambar 2. Contoh grafik perubahan tekanan darah seseorang dalam 1 hari 

Nilai tekanan darah yang sehat untuk orang dewasa yang berusia 18 tahun ke atas adalah bertekanan sistolik kurang dari 120 mmHg. Bila nilai sistoliknya berkisar antara 

120 – 139 mmHg, maka orang tersebut mengalami Prehypertension, di mana tekanan darahnya lebih tinggi dari tekanan darah yang dianjurkan, tetapi tidak cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai tekanan darah tinggi (Hypertension). Tekanan darah tinggi (Hypertension) dibagi menjadi 2 tahap, yaitu tekanan darah tinggi tahap 1 dan tahap 2. Bila nilai tekanan sistolik berada di antara 140 – 159 maka disebut tekanan darah tinggi tahap 1 (Stage 1 Hypertension). Kondisi di mana nilai sistolik lebih tinggi dari 159 mmHg disebut dengan tekanan darah tinggi tahap 2 (Stage 2 Hypertension). 

Tekanan diastolik berfungsi untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang. Orang sehat memiliki selisih nilai sistolik dan diastolik (pulse pressure) sekitar 40 mmHg. Bila nilai tersebut terlalu rendah, sekitar 25 mmHg atau kurang, berarti jantung orang tersebut tidak kuat memompa darah. Nilai pulse pressure yang terlalu tinggi, sekitar 60 mmHg atau lebih, menandakan bahwa dinding pembuluh darah orang tersebut mulai mengeras. 

Tabel Kategori tekanan darah pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas 
Kategori
Tekanan sistolik (mmHg)
Normal
<120
Prehypertension
120 – 139
Stage 1 Hypertension
140 – 159
Stage 2 Hypertension
>159

Seseorang dengan tekanan darah yang terlalu rendah tidak langsung menandakan bahwa orang tersebut mengalami tekanan darah rendah (Hypotension) dan harus segera ditangani secara medis. Tekanan darah rendah baru dianggap sebagai masalah bila orang tersebut mengalami gejala-gejala abnormal, seperti pusing, pingsan, mual, pandangan kabur, dan sulit berkonsentrasi. Tekanan darah yang rendah menyebabkan kurangnya suplai darah ke otak, sehingga sang penderita merasa lemas, pusing, dan terkadang pingsan. Namun orang bertekanan darah rendah yang dapat bersikap seperti orang normal memiliki tingkat risiko mengidap penyakit jantung yang lebih rendah dari orang dengan tekanan darah normal. 

Tekanan darah tinggi (Hypertension) lebih menyita perhatian, karena memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Tekanan darah yang tinggi menyebabkan arteri menjadi menegang, jantung bekerja makin keras, menebalkan otot jantung, dan membuat jantung melemah seiring berjalannya waktu. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan serngan jantung, stroke, dan gagal ginjal. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan tekanan darah seseorang, yaitu: 

• Keturunan 
Orang yang keluarganya memiliki sejarah bertekanan darah tinggi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memiliki tekanan darah tinggi dibandingkan orang normal. 

• Umur 
Semakin tua seseorang semakin kaku pembuluh darahnya, hal ini menyebabkan jantung memompa darah lebih kuat dan meningkatkan tekanan darahnya. 

• Jenis Kelamin 
Pria lebih mungkin terkena tekanan darah tinggi dibandingkan wanita sebelum umur 45 tahun. Sedangkan wanita lebih mungkin mengidap tekanan darah tinggi dibandingkan pria setelah umur 64 tahun. 

• Aktivitas fisik 
Orang yang jarang beraktivitas fisik memiliki jantung yang berdetak lebih cepat dari orang yang sering beraktivitas fisik, hal ini akan menaikkan tekanan darah. Kurangnya aktivitas fisik juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kelebihan berat badan. 

• Berat badan 
Orang yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas membutuhkan darah dengan volume yang lebih besar dari orang normal. Kenaikan volume darah ini akan meningkatkan nilai tekanan darah orang tersebut. 

• Makanan 
Makanan berlemak meningkatkan kandungan lemak dalam tubuh dan menyebabkan pembuluh darah menebal dan jalur darah menyempit. Jalur darah yang menyempit ini membuat jantung memompa lebih keras dan meningkatkan tekanan darah. Makanan berlemak juga memungkinkan seseorang untuk mengidap kelebihan berat badan. 

• Kandungan garam 
Terlalu banyak konsumsi garam akan membuat cairan dalam darah meningkat untuk mengurangi kadar garam. Peningkatan cairan ini akan meningkatkan kerja jantung untuk memompa darah, sehingga meningkatkan tekanan darah. Kandungan garam dapat dikurangi dengan mengkonsumsi potasium. 

• Minuman beralkohol 
Terlalu banyak konsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan tekanan darah. 

• Rokok 
Kandungan zat kimia pada asap rokok dapat merusak pembuluh arteri. Hal ini dapat menyebabkan menyempitnya pembuluh darah sehingga meningkatkan kerja jantung dan menyebabkan naiknya tekanan darah. 

Faktor di atas menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang bisa dikontrol dengan gaya hidup sehat namun tidak bisa disembuhkan karena adanya faktor usia. Sebanyak 80% orang berusia 65 tahun ke atas mengidap tekanan darah tinggi. Karena itu setiap orang disarankan untuk mengontrol gaya hidup mereka sejak dini untuk menekan nilai tekanan darah mereka sekecil mungkin. 

Tekanan darah tinggi tidak disertai gejala-gejala seperti penyakit pada umumnya, sehingga satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah memeriksa tekanan darah secara teratur baik dengan bantuan tenaga ahli maupun secara otodidak menggunakan alat pengukur otomatis. Terdapat kasus di mana seseorang terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi ketika mengukur tekanan darahnya di fasilitas medis, seperti rumah sakit atau puskesmas. Hal ini disebut dengan whitecoat hypertension, terjadi karena perasaan gugup dan tidak nyaman yang timbul karena berada di fasilitas medis. Karena itu kaum dokter menganjurkan setiap orang agar mengukur tekanan darah mereka di rumah, karena suasana di rumah dapat memberikan perasaan nyaman dan rileks. 

Teknik Pengukuran Tekanan Darah 
Secara garis besar ada 2 jenis teknik pengukuran tekanan darah, yaitu secara invasive dan non-invasive. Pengukuran secara invasive dilakukan dengan cara menusukkan jarum cannula ke pembuluh arteri. Kemudian cannula tersebut dihubungkan melalui selang ke sebuah sistem yang memiliki electronic pressure transducer, di mana sistem tersebut akan memonitor secara langsung tekanan dari aliran darah yang mengalir pada selang. Keuntungan sistem invasive ini adalah keakuratan yang tinggi dan kemampuan alat untuk memonitor tekanan darah secara real-time. Kekurangannya adalah dibutuhkannya kemampuan yang memadai untuk melakukan teknik ini dengan baik dan benar, serta besar dan kompleksnya alat yang digunakan membuat teknik ini kurang sesuai untuk pemakaian yang mementingkan kepraktisan. Teknik pengukuran ini biasanya digunakan di rumah sakit untuk kepentingan intensive care medicine dan anesthesiology, beberapa pihak juga menggunakannya untuk melakukan penelitian dan riset. 

Teknik pengukuran secara non-invasive lebih mudah dan praktis bila dibandingkan dengan pengukuran secara invasive, karena itu teknik pengukuran ini lebih sering digunakan walaupun memiliki tingkat keakuratan yang lebih rendah. Teknik pengukuran ini dibagi menjadi 2 metode, yaitu metode auscultatory dan oscillometric. 

1. Metode Auscultatory 
Metode ini menggunakan 2 buah alat, yaitu sebuah sphygmomanometer dan sebuah stetoskop. Pengukuran dilakukan dengan cara mengikat lengan dengan cuff yang tersedia pada sphygmomanometer dan mendengarkan suara aliran darah pada pembuluh arteri lengan dengan menggunakan stetoskop. Pertama cuff dilingkarkan di lengan atas pengguna dan dipompa hingga tekanan pada sphygmomanometer menunjukkan angka di pompa. Bila terdengar suara berdetak atau berdenyut berarti darah sudah mulai sedikit mengalir pada pembuluh arteri. Nilai tekanan yang ditunjukkan oleh sphygmomanometer ketka suara detakan pertama terjadi adalah nilai tekanan sistolik. Bila tekanan pada cuff sudah cukup rendah maka darah dapat mengalir lagi dengan lancar, dengan demikian suara berdetak tidak akan terdengar lagi. Tekanan yang ditunjukkan oleh sphygmomanometer pertama kali suara menjadi tidak terdengar adalah tekanan diastolik. Pengukuran dengan metode ini membutuhkan bantuan tenaga ahli seperti dokter atau perawat yang sudah terlatih untuk melakukan pengukuran ini, sehingga tingkat error dalam pengukuran sangat kecil. 



Gambar Metode pengukuran auscultatory 

mendeteksi denyutan pembuluh darah bukan stetoskop tetapi sebuah sensor tekanan yang terhubung dengan udara di dalam cuff, sensor ini juga berfungsi untuk mengukur tekanan pada cuff. Umumnya metode ini menggunakan sebuah sphygmomanometer digital yang sudah dilengkapi dengan cuff berikut sensornya, serta layar untuk menampilkan hasil pengukuran. Langkah-langkah yang dilakukan sama seperti metode auscultatory, ketika tidak ada darah yang mengalir di dalam pembuluh arteri, tekanan udara pada cuff bernilai relatif konstan. Saat darah mulai mengalir, pembuluh arteri mulai berdenyut dan mengakibatkan perubahan tekanan udara pada cuff. Kuatnya denyutan berosilasi dari pelan menjadi semakin kuat kemudian memelan lagi sampai menjadi stabil ketika darah sudah mengalir dengan lancar. Perubahan tekanan udara pada cuff yang disebabkan oleh denyutan ini diubah oleh sensor menjadi sinyal listrik dan dikalkulasi oleh sphygmomanometer digital untuk mendapatkan nilai sistolik dan diastolik. 

Metode ini biasanya dilakukan secara otomatis olah sphygmomanometer digital sehingga menjadikan metode ini lebih praktis dan pengguna dapat melakukannya sendiri di rumah. Namun kekurangannya adalah tingkat error yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode auscultatory, karena sphygmomanometer digital tidak dapat membedakan denyutan yang terjadi secara alami dengan denyutan yang terjadi karena pengguna bergerak ketika pengukuran dilakukan. Oleh sebab itu pengukuran dengan metode ini mengharuskan pengguna untuk diam selama pengukuran dilakukan. Pada umumnya sphygmomanometer digital dikalibrasi untuk mengecek keakuratan pengukurannya. Kalibrasi yang dimaksud adalah membandingkan hasil pengukuran sphygmomanometer digital dengan metode auscultatory yang dilakukan oleh dokter atau perawat. Besarnya error yang masih dapat ditoleransi adalah 10 mmHg untuk tekanan sistolik dan 5 mmHg untuk tekanan diastolik. 

Gambar Sphygmomanometer digital

Read more »

Keamanan dan Perbaikan Kualitas Hidup dari LODOZ

Keamanan dan Perbaikan Kualitas Hidup dari LODOZ : Pengamatan terhadap 36 pasien yang diterapi LODOZ 5 mg menunjukkan hasil yang memuaskan dan mereka menunjukan adanya perbaikan dalam kualitas hidup selama periode terapi aktif. Tingkat perbaikan diketahui dengan membandingkan antara jumlah dan besarnya efek samping yang terjadi pada dosis terendah dengan dosis terapi. 

Pada penelitian lain yang dilakukan secara acak dengan cara "double-blind" terhadap 218 pasien yang telah dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut dosis dengan maksud untuk membandingkan pengaruh yang dihasilkan oleh LODOZ, Amlodipine, dan Enalapril terhadap penurunan tekanan darah, efek sampingnya dan pengaruhnya terhadap kualitas hidup. Parameter yang digunakan untuk mengetahui perbaikan kualitas hidup antara lain: kemampuan untuk merawat diri sendiri, penilaian terhadap tanda-tanda vital, dan nilai "Zung self-rating Depression", mula-mula pasien yang mendapatkan terapi seperti biasanya, kemudian diberikan plasebo, dan selanjutnya diberikan terapi yang optimal selama 12 minggu. Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasien yang diterapi dengan LODOZ dan Amlodipin memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sedangkan pada pasien yang diterapi dengan Enalapril menunjukkan penurunan dalam kualitas hidup. Kualitas hidup ditunjukkan oleh efek samping yang terjadi dan bukan oleh menilai penurunan tekanan darah baik sistol maupun diastol yang terjadi. 

Akhir-akhir ini penelitian dilakukan pada berbagai kelompok yang diambil secara acak, untuk mengetahui perbandingan antara kegunaan dan keamanan LODOZ 2,5 mg dibandingkan dengan Amlodipin 5 mg terhadap penuruanan tekanan darah pada pasien dengan "Isolated Systolic Hypertensien" yang berusia lebih dari 60 tahun. Penilaian dilakukan dengan menilai kemampuan pasien untuk mengurus diri sendiri, dengan menggunakan indeks dari "The Psycological General Well Being", yang terdiri dari 22 pertanyaan dan pemyataan dalam rangka menilai derajat kecemasan, depresi, kesehatan, pemikiran yang positif dan vitalitas. Nilal kualitas hidup secara nyata meningkat bila dibandingkan antara awal terapi dengan setelah terapi selama 12 minggu dengan kedua macam obat diatas. Hasilnya adalah tidak ada perbedaan yang bermakna dalam perbaikan kualitas hidup antata kedua kelompok tersebut. 

Keamanan dari LODOZ 
LODOZ (2,5 mg, 5 mg dan 10 mg) mempunyai efek samping yang menyerupai plasebo dan lebih baik bila dibandingkan dengan obat anti hipertensi yang lain. Hal ini karena LODOZ menggunakan dosis HCTZ 6,25 mg, sehingga efek samping terhadap metabolik lebih ringan bila dibandingkan dengan HCTZ 25 mg, dan kadar natrium juga tidak terpengaruh. LODOZ juga terbukti tidak menyebabkan terjadinya disfungsi seksual 

pada pria. Berbagai keunggulan tersebut dapat menunjang kualitas hidup dari pasien. 

Keamanan dari LODOZ telah dibuktikan pada berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai pus at kesehatan di Amerika Serikat. Dimana pada pasien diberiakan obat dengan dosis yang berbeda-beda dan diamati selama 12 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan ulang selama 4 minggu. Pada penelitian yang lain menunjukkan adanya efek ketergantungan terhadap Bisoprolol dan HCTZ dosis rendah pada 512 pasien yang mendapatkan terapi tunggal dengan Bisoprolol (2,5 mg, 10 mg dan 40 mg), ataupun terapi tunggal dengan HCTZ (6,25 mg dan 25 mg) ataupun pada kombinasi kedua obat tersebut maupun pada terapi dengan plasebo. 

Perbandingan antar efek samping LODOZ dengan Plasebo 

Efek samping yang sering terjadi pada pasien yang mendapatkan terapi dengan LODOZ adalah pusing, asthenia serta rasa lelah yang ditemukan pada 2 % dari total pasien dan hal ini hampir sarna dengan efek samping yang diakibatkan oleh plasebo. Efek samping ini berhubungan dengan efek samping yang diakibatkan oleh β-bloker. 

LODOZ lebih efektif bila dibandingkan dengan obat antihipertensi lain 
Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa LODOZ lebih bisa diterima dengan baik bila dibandingkan dengan Ca Channel Blocker (Amlodipin) ataupun ACE inhibitor (Enalapril). Analisayang dilakukan terhadap 541 pasien menunjukkan bahwa pada minggu ke 12, paling sedikit 1 pasien mendapat efek samping dari obat yang diberikan, LODOZ (24 %), plasebo (27%),.Amlodipin (28 %) dan Enalapril (25%). Namun efek Samping ini tidak sebanding dengan efek terapi yang diberikan. Efek Samping yang terjadi pada terapi dengan LODOZ berupa sakit kepa1a (5%) danl rasa lelah (3%). Angka kejadian terjadinya edema pada pasien yang mendapat terapi dengan Amlodipin (15%) lebih tinggi bila dibandingkan dengan pasien yang diterapi dengan LODOZ (2%), sedangkan angka kejadian batuk pada pasien yang diterapi dengan Enalapril (5%0) lebih tinggi bila dibandingkan dengan pasien yang diterapi dengan LODOZ (10/30 (33%) tapi sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan pasien yang diterapi dengan plasebo. 

Fakta penelitian lain yang membandingkan Losartan dengan Losartan/HCT atau plasebo, semua terapi berdayaguna dengan baik. Efek samping pada kelompok pasien yang diterapi dengan LODOZ 10/30 (33%), 11/30 (37%) pada kelompok pasien yang diterapi dengan Losartan maupun pada pasien yang diterapi denganLosartan/HCTZ dan 7/15 (47%) pada pasien yang diterapi dengan plasebo. Disamping itu juga ada pasien yang dikeluarkan dari penelitian karena efek samping terapi, dua diantaranya karena sesak yaitu pada pasien yang diterapi dengan Losartan dan plasebo dan seorang lagi karena sakit kepala berat yaitu pada pasien yang diterapi dengan plasebo, kemudian tiga pasien lagi ditolak karena tekanan darah yang tidak terkontrol, masing-masing kelompok satu orang. 

LODOZ bisa digunakan pada pria maupun wanita, pasien kulit hitam maupun bukan kulit hitam, serta pada pasien usia muda maupun tua. 

Tingkat keamanannya sarna pada berbagai kelompok usia 
Pemilihan obat antihipertensi sangat penting pada pasien yang tua dengan mempertimbangkan berbagai alasan, termasuk diantaranya peningkatan sensitifitas terhadap oat antihipertensi yang lain, efek farmakokinetik, interaksi dengan obat-obat anti hipertensi yang lain serta daya gunanya dalam mengendalikan tekanan darah. Faktor­faktor tersebut digunakan untuk menilai apakah terapi tersebut efektif untuk mengobati hipertensi dan kemungkinan yang minimal akan timbul efek samping serta dapat digunakan dengan dosis sekali sehari. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa LODOZ dapat diterima karena LODOZ memiliki efek samping yang minimal terhadap kadar kalium, kadar lemak dan toleransi terhadap glukosa, selain itu efeknya terhadap timbulnya akibat orthostatik hipotensi juga minimal. 

Beberapa data mendukung penggunaan LODOZ sebagai pilihan untuk pasien usia tua dengan hipertensi, karena kemampuannya dalam mengontrol tekanan darah, dimana hal ini sulit dilakukan oleh obat-obat anti hipertensi yang lain. Keamanan yang diberikan oleh LODOZ dapat dikatakan sarna pada pasien muda (usia kurang dari 60 tahun) maupun pasien tua (usia lebih dari 60 tallun). 

Pemberian LODOZ tidak mempengaruhi kadar Kalium 
Karena LODOZ menggunakan HCT 6,25 mg sehingga efek samping yang terjadi lebih ringan bila dibandingkan dengan HCT 25 mg. Secara umum kadar kalium tidak terganggu pada pasien yang menggunakan LODOZ, hipokalemi biasanya baru timbul pada kadar HCT 25 mg, selain itu LODOZ juga relatif tidak menyebabkan hiperurisemia bila dibandingkan dengan HCT 25 mg. 

Terapi dengan LODOZ juga tidak mempengaruhi kolesterol total (kurang dari 1 % bila dibandingkan dengan plasebo). Ia biasanya menimbulkan terjadinya peningkatan trigliserida (14%) dan penurunan HDL-C (5%). 

Pada penelitian yang dilakukan padta pasien "Isolated Hypertension Sistolic" yang berusia lebih dari 60 tahun yang diterapi menggunakanLODOZ 2,5 mg (n=84) dibandingkan dengan pasien yang menggunakan Amlodipin 5 mg (n=8~), tampak bahwa tidak ada perubahan yang bermkna pada total kolesterol, LDL dan HDL, trigliserida atau glukosa dan kedua perlakuan. 

LODOZ tidak menyebabkan terjadinya disfungsi seksual bila dibandingkan dengan plasebo 

Disfungsi seksual yang diakibatan oleh obat antihipertensi akan menurunkan kualitas hidup pasien sehingga pasien menjadi tidak teratur melakukan pengobatan dan akhirnya tekanan darahnya jadi tidak terkontrol. Penelitian yang dilakukan.oleh "The Veterans Affair Cooperative Study Group" pada pria yang menggunakan HCT sebagai pilihan terapi hipertensinya menunjukkan bahwa tidak terjadi disfungsi seksual pada mereka, hal ini berlawanan dengan mereka yang menggunakan β-bloker sebagai terapi. 

Untuk menerangkan efek dari berbagai macam obat antihipertensi sebagai terapi tunggal ataupun sebagai terapi kombinasi dan efek sampingnya terhadap penurunan libido dan impotensi telah dilakukan oleh gender. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 1.912 pasien hipertensi yang diberikan plasebo, Enalapril, Amlodipin, HCT, Bisoprolol atau LODOZ selama 6-12 minggu. Rata-rata angka terjadinya disfungsi seksual setelah terapi jangka pendek dengan obat antihipertensi atau plasebo adalah 2,4% pada pria (30 dari 1.251 pasien) dan 0,3% pada wanita (2 dari 661 pasien). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna angka kejadian disfungsi seksual pada pasien yang diterapi LODOZ bila dibandingkan dengan mereka yang diterapi dengan HCT, Bisoprolol, Enalapril, Amlodipin maupun plasebo. 

Rendahnya angka putus obat 
Beberapa pasien mengalami putus obat dengan LODOZ karena efek samping yang ditimbulkannya, sebagaimana yang telah dilaporkan oleh Neutel et al, sedangkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Prisant et al, bahwa angka kejadian putus obat terhadap LODOZ sekitar 2%, dan dari hasil kombinasi kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa angka kejadian putus obat yang diakbatkan oleh LODOZ lebih kecil bila dibandingkan dengan plasebo, Amlodipine atau Enalapril. Hal ini dikarenakan efek samping yang terjadi pada mereka yang menggunakan LODOZ lebih kecil bila dibandingkan yang lain. Pada penelitian selanjutnya menunjukan bahwa angka kejadian putus obat pada penggunaan Bisoprolol 2,5 mg, HCT 6,25 mg adalah 3%" pada dosis 5 mg sebesar 2% dan 1 % pada dosis 10 mg, sedangkan pada plasebo sebesar 4%.


Daftar Pustaka
ALDERMAN MH. Which antihypertensive drungs first drug and why! JAMA. 1992; 267: 2786 - 2787.

BRUNER HR, MENHARD J, W AEBER B, et al. Treating the individual hypertensive patient: considerations on dose, sequential monotherapy and drug combinations. J Hypertens . 1990; 8: 3-11. (Editorial review)

COOK CA. Pathophysiologic and pharmacotherapy consideration in the management of the black hypertensive patient. Am Heart J. 1988; 116: 288-295.

DAHL OF B, LINDHOLM LH, HANSSON L, et al. Morbidity and mortality in the Swedish Trial in Old Patients with hypertension (STOP Hypertension). Lancet. 1991; 338: 1281-1285.

Read more »