PENGELOLAAN ARSITEKTUR TAMAN KOTA

Pada dasarnya dalam satu hari setiap manusia membutuhkan ½ kilogram Oksigen dan sebuah pohon menghasilkan 1 kg oksigen. Artinya dalam satu hari dua orang manusia membutuhkan satu pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.
Kepadatan penduduk di kota-kota besar Indonesia sejalan dengan padatnya hunian dari rumah berkategori menengah kebawah sampai perumahan elite, belum ditambah dengan perkantoran, pusat perbelanjaan sampai pabrik-parbrik yang menjadi ciri khas kota besar di Indonesia yang memiliki daya tarik secara ekonomi yang membuat orang beramai-ramai hijrah dari daerah perkampungan untuk mencari peruntungan (Andriana, 2007). 
Taman perkotaan yang merupakan lahan terbuka hijau, dapat berperan dalam membantu fungsi hidrologi dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir. Pepohonan melalui perakarannya yang dalam mampu meresapkan air ke dalam tanah, sehingga pasokan air dalam tanah (water saving) semakin meningkat dan jumlah aliran limpasan air juga berkurang yang akan mengurangi terjadinya banjir. Diperkirakan untuk setiap hektar ruang terbuka hijau, mampu menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Sehingga kekeringan sumur penduduk di musim kemarau dapat diatasi. Sekarang sedang digalakan pembuatan biopori di samping untuk dapat meningkatkan air hujan yang dapat tersimpan dalam tanah, juga akan memperbaiki kesuburan tanah. Pembuatan biopori sangat sederhana dengan mengebor tanah sedalam satu meter yang kemudian dimasuki dengan sampah, maka di samping akan meningkatkan air tersimpan juga akan meningkatkan jumlah cacing tanah dalam lubangan tadi yang akan ikut andil menyuburkan tanah.
Taman kota mempunyai fungsi kesehatan. Taman yang penuh dengan pohon sebagai jantungnya paru-paru kota merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan fungsinya. Peran pepohonan yang tidak dapat digantikan yang lain adalah berkaitan dengan penyediaan oksigen bagi kehidupan manusia. Setiap satu hektar ruang terbuka hijau diperkirakan mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk perhari, membuat dapat bernafas dengan lega.
Taman dapat juga sebagai tempat berolah raga dan rekreasi yang mempunyai nilai sosial, ekonomi, dan edukatif. Tersedianya lahan yang teduh sejuk dan nyaman, mendorong warga kota dapat memanfaatkan sebagai sarana berjalan kaki setiap pagi, olahraga dan bermain, dalam lingkungan kota yang benar-benar asri, sejuk, dan segar sehingga dapat menghilangkan rasa capek. Taman kota yang rindang mampu mengurangi suhu lima sampai delapan derajat celsius, sehingga terasa sejuk.
Bahkan dari ramainya pengunjung tidak menutup kemungkinan banyak penjual jajanan untuk menyediakan makanan. Nampaknya warga kota solo mengidamkan benar tempat yang segar dan nyaman, suatu contoh setiap hari minggu kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta banyak dimanfaatkan masyarakat Surakarta untuk jalan pagi sehat (olahraga) karena rindangnya kampus yang penuh pepohonan, topografi yang bergelombang menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Tidak berlebih jika dikatakan sebagai kampus hijau. Sayangnya pepohonan berbuah seperti sawo manila walaupun banyak namun masih kecil, sehingga belum mengundang burung tinggal di kampus. Kondisi yang ramai ini mengundang banyak asongan untuk menjajankan makanannya, namun tentunya harus diatur dan ditertibkan.
Dengan terpeliharanya dan tertatanya taman kota dengan baik akan meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan, sehingga akan memiliki nilai estetika. Taman kota yang indah, dapat juga digunakan warga setempat untuk memperoleh sarana rekreasi dan tempat anak-anak bermain dan belajar.
Bahkan taman kota indah dapat mempunyai daya tarik dan nilai jual bagi pengunjung. Solo merupakan kota budaya yang memiliki daya tarik peninggalan budaya seperti kraton kasunanan dan kraton mangkunegaran. Jika lingkungan kotanya sehat dengan taman kotanya tertata indah akan menambah daya tarik bagi wisatawan.
Fungsi yang terakhir adalah fungsi sosial, dimana taman kota menjadi tempat bagi berbagai macam aktivitas sosial seperti berolahraga, rekreasi, diskusi dan lain-lain. Fungsi ini pada dasarnya menjadi kebutuhan warga kota sendiri yang secara naluri membutuhkan ruang terbuka untuk bersosialisasi sekaligus menyerap energi alam (Solo Pos, 2007).

Taman juga memiliki fungsi sebagai tempat pengelolaan seni budaya dan minimal harus melakukan peningkatan dan pengembangan kesenian, menyelenggarakan penyajian kesenian dan melaksanakan pendokumentasian dan informasi seni budaya (Anonim, 2009 ).
Kota tidak hanya merupakan kumpulan gedung-gedung dan sarana fisik lainnya. Akan tetapi, sebuah kota adalah kesatuan antara lingkungan fisik kota dan warga kota. Dua komponen ekosistem ini akan selalu akan berinteraksi selama proses berkembangnya kota. Perubahan-perubahan yang bersifat positif akan memberi manfaat bagi kehidupan kota. Kebanyakan kota di negara berkembang seperti di Indonesia dibangun berdasarkan latar balakng agraris, demikian juga dengan kota jakarta.
Lahan-lahan pertanian di perkotaan yang merupakan ruang terbuka hijau sudah banyak berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan warga kota. Lahan-lahan pertanian yang berada di dalam kota merupakan ruang terbuka hijau produktif yang memberikan penghidupan dan sebagian kebutuhan hasil pertanian bagi warga kota.
Penataan ruang terbuka hijau (RTH) secara tepat akan mampu berperan meningkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran udara, menurunkan kadar polusi udara, dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton (1963) menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam kebisingan 25-80%. 

Pada umumnya ruang terbuka hijau dapat diproduksi oleh tanaman dan tumbuhan, dimana unsur ini banyak berpengaruh terhadap kualitas udara kota. Tanaman dapat menciptakan iklim mikro, yaitu adanya penurunan suhu sekiar, kelembapan yang cukup dan kadar O2 yang bertambah. Hal ini dikarenakan adanya proses asimilasi dan evapotranspirasi dari tanaman. Disamping itu, tanaman juga dapat menyerap/mengurangi CO2 di udara yang dihasilakn oleh berbagai kegiatan seperti industri, kendaraan bermotor, dan sebagainya. 

Menurut hasil penelitian Gerakls, 1 (satu) hektar ruang terbuka hijau dapat menghasilkan 0,6 ton oksigen untuk konsumsi 1.500 orang perhari. Beberapa penelitian juga mengungkapkan bahwa tanaman dengan kriteria tertentu dapat meredam/mengurangi kebisingan. Kotra yang baik sebaiknya menyajikan kebutuhan yang behubungan dengan kenyamanan dan kualitas lingkungan pda tingkat kewajaran sesuai dengan standar hidup sehat bagi warga kota. Peranan ruang terbuka hijau kota (RTHK) terhadap kelestarian lingkungan antara lain sebagai berikut :

1. Menunjang tata guna dan pelestarian air. Kondisi tata air tanah pada cekungan artesis. Jakarata yang sudah semakin buruk telah tampak gejalanya, yaitu merembesnya air laut jauh kedaratan (salt intrusion), semakin keringnya sumber-sumber air bawah tanah, menurunnya kualitas air. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan pengembangan sistem ruang terbuka hijau yang terencana seperti program recharging hole, mengeleminir banjir, perbaikan daerah aliran sungai, dan perluasan area daerah peresapan air hujan.

2. Menunjang tata guna dan pelestarian tanah. Suatu penetapan peruntukan yang kurang bijaksana dapat menyebabkan ekosistem terganggu. Oleh karenanya pola ruang terbuka hijau dalam sistem tata ruang terbuka kota dapat dipergunakan sebagai alat pengendali tata guna tanah secara luas dan dinamis.
Disamping itu, pengembangan ruang terbuka hijau mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kondisi tanah itu sendiri secara alamiah. Sehingga perlu adanya program-program perbaikan tanah kritis, pencegahan erosi,
peningkatan kualitas lingkunagn (pemukiman, industri, jalur transportasi, dan sebagainya).
3. Menunjang pelestarian plasma nutfah. Dengan pengembangan ruang terbuka hijau maka diharapkan dapat diterapkan progam penghijauan pada ruangruang terbuka kota. Hal ini memungkinkan adanya penerapan berbagai jenis tanaman yang dapat memberikan keanekaragaman hayati. Disamping itu, dengan adanya berbagai jenis vegetasi yang terdapat pada ruang terbuka hijau, dapat menjadi habitat kehidupan satwa liar terutama berbagai jenis burung.  Satwa-satwa tersebut sudah sangat langka/jarang ditemui dilingkungan perkotaan. Dengan demikian, ruang terbuka hijau dapat berfungsi sebagai tempat pelestarian keanekaragaman jenis flora maupun fauna dalam upaya pelestarian plasma nutfah (Hakim et all, 2002). 

Rancangan taman harus cukup sederhana untuk mudah dimengerti, artinya tidak diselingi oleh hal-hal yang kurang beralasan, menentramkan dan dalam keadaan seimbang, mempunyai cukup variasi untuk menarik suatu perhatian, mempunyai pengaruh yang mengesankan, sehingga rancangan kota secara prinsip termasuk fasilitas umum yang dapat diakses oleh setiap warga kota tanpa membayar uang. Oleh karena itu taman kota
yang bagus adalah taman kota yang mampu mengakomodasi berbagai kegiatan (fungsí) pengguna serta dapat digunakan oleh siapa saja (berbagai kelompok umur, jenis kelamin, dan tingkat sosial) termasuk para penyandang cacat. 

Suatu hamparan rumput merupakan salah satu area di taman yang memungkinkan aktivitas pengunjung paling beragam, baik kegiatan aktif (seperti berlari, melompat, melakukan permainan dan sebagainnya) maupun pasif (duduk, membaca, piknik dan lain-lain). Intensitas penggunaan taman yang tinggi berakibat pada persoalan diantaranya terganggunya pertumbuhan rumput sehingga beberapa bagian rumput botak dan merusak estetika hamparan rumput secara keseluruhan.
Kebotakan hamparan rumput disebabkan berbagai persoalan diantaranya terjadinya pemadatan tanah, kurangnya capaian air irigasi masuk daerah perakaran, serta genetik kecepatan tumbuh jenis rumput. Akan tetapi dalam konteks persoalan diatas yang paling berpengaruh adalah pemadatan tanah. Sistem perakaran sangat dibutuhkan dan biasanya tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah padat. Cara pemelihara taman mengidentifikasi tanah padat diantaranya adalah :
  1. Genangan air pada permukaan tanah lama tidak meresap hujan terjadi.
  2. Akar tanaman, khususnya pohon, dekat/terlihat di permukaan tanah.
  3. Tanaman yang baru ditanam seperti tanaman dua musiman dan herba susahtumbuh.
  4. Daun menguning, khususnya selama musim penghujan saat daun mulai tumbuh menjadi dewasa, beberapa mengurangi perkembangan daun selama musim tumbuh.
  5. Kehadiran beberapa rumput atau gulma yang subur pada tanah padat. Misalnya goosegrass dan rumput gajahan.
  6. Timbulnya beberapa hama dan penyakit pada tanaman baru yang ditimbulkan oleh drainase yang buruk dan kekurangan oksigen.
  7. Tahan dari pengolahan tanah dengan sekop, cangkul, tusukan dan pemeriksaan dengan pisau.
Upaya perbaikan hamparan diantaranya dengan melakukan beberapa kegiatan diantaranya coring (membuat lubang-lubang kecil dimana bagian tanah keras sebagian dibuang), spike (memecah agregat tanah padat dengan pisau), top dress (pemeberian media tanam dipermukaan pasir), pemupukan, pengapuran, irigasi, yang cukup serta penanaman kembali jika diperlukan (Anonim, 2009). Pemelihara taman harus menjalin komunikasi yang baik dengan arsitek taman untuk menerima saran-saran pemeliharaan sesuai dengan yang direncanakan. Pemelihara taman juga harus berkomunikasi dengan kontraktor taman karena pemelihara taman akan melanjutkan pemeliharaan yang telah dilaksanakan oleh kontraktor taman karena pemelihara taman akan melanjutkan pemeliharaan yang telah dilaksanakan oleh kontraktor selama dalam jaminannya.
Komunikasi dengan nurseryman juga diperlukan pada waktu pergantian tanaman yang rusak/mati atau untuk konsultasi. Hal ini dikarenakan pada umumnya nurseryman merupakan orang yang paling cepat tahu akan karakter tanaman sehingga kebutuhan pupuk, jenis pestisida, dan perlakuan yang cocok untuk tiap jenis tanaman dapat diberikan secara benar. Sementara itu, komunikasi dengan pemasok material/elemen keras diperlukan pada saat perbaikan atau penggantian elemen keras (Arifin et all, 2005).
Taman merupakan tempat-tempat yang komplek dan saling berhubungan. Pengguna area adalah elemen fisik yang komplek dan saling menguntungkan. Permasalahannya adalah ketika bahan-bahan yang saling berhubungan dengan yang lain dapat menimbulkan gangguan terhadap masyarakat (Rutledge, 1971). Banyak komponen penting penyusun suatu lansekap, baik tersusun secara alami atau buatan. Soft material, dalam hal ini ialah tanaman, memiliki peranan penting sebagi penyusun lanskap. Tidak hanya cantik, tanaman lanskap juga terbukti mampu meningkatkan kualitas lingkungan (Lestari, et all, 2008). Pengelolaan taman dan pemeliharaan tanaman berperan penting dalam menentukan keberhasilan proyek pembangunan lanskap. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan mengenai aspek-aspek pengelolaan dan pemeliharaan tersebut. Aspek-aspek tersebut meliputi pembersihan areal taman dan tanaman, penyiangan gulma, penggemburan dan aerasi tanah, serta penyiraman.

Daftar Bacaan
Anonim. 2009. Pemeliharaan Taman Kota. www.pustakaiptek.co.id. Diakses pada hari Minggu 7 juni 2009 pukul 15.46 wib.
Anonim. 2009. Jadikan Taman Budaya Rumah Seniman. http://harianjoglosemar.com. Diakses pada hari Jumat 6 Februari 2009 pada pukul 13.34 WIB.
Arifin, Hadi Susilo dan Nurhayati HS Arifin. 2005. Pemeliharaan Taman. Penebar Swadaya, Jakarta.
Deni, Andriana. 2007. Manfaat Taman Ruang Hijau Terbuka. Majalah Greeners. Bandung. 

0 komentar:

Post a Comment